Aku dulu
mengenalnya dalam organisasi mahasiswa. Ia anak baru, masih semester satu. Aku
semester lima. Suatu hari pernah kuberanikan diri menyapanya. Saat itu aku
menemuinya di perpustakaan daerah. Ah, sebenarnya hanya menyapa senyum, tak ada
dialog.
Di
kampusku ada progam Unit Kegiatan Mahasiswa. Salah satu yang menarik
perhatianku adalah tentang dakwah. LDK, Lembaga Dakwah Kampus. Dulu saat
pertama masuk, aku langsung ikut menjadi anggota. Dan perempuan itu juga ikut menjadi
anggota LDK. Sejak pertama aku melihatnya, selalu membuatku kagum. Bagaimana
tidak, di tengah zaman serba maju ini, hampir setiap perempuan semakin memakai
pakaian mini nan ketat. Bahkan aku ngeri jika melihat perempuan berjilbab namun
berbaju ketat. Memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Tapi perempuan itu tidak.
Malah mengenakan jilbab lebar dan baju longgar. Oh, aku kagum padanya.
Namanya
Hasma.
Kejadian
perkenalan itu sudah tertinggal jauh sekali. Empat tahun lalu aku baru saja
lulus. Jadi sarjana Teknik Mesin. Alhamdulillah, saat aku lulus aku langsung
mendapat pekerjaan di suatu perusahaan mobil. Hingga sekarang masih bekerja.
Namun satu hal yang menjadi permasalahan adalah aku belum menikah.
Hari
ini pagi begitu riang menyapa. Tadi malam kupingku panas. Sempat berdebat
dengan Ibu. Mungkin beliau sudah habis batas kekesalannya melihat anak
bujangnya tidak kunjung menikah. Bapak tidak memaksa, mengerti bagaimana
posisiku yang belum siap berumah tangga. Apalagi aku belum pernah merasakan
dekat dengan perempuan. Oh, perempuan selalu membuatku panas dingin jika
berhadapan. Bahkan berbicara pun takut. Entah kenapa.
Namun
tadi malam ada yang membuatku berpikir. Ya, ucapan Ibu menjadi perenungan
malamku. “Cepatlah cari istri sana! Supaya kamu ada yang mengurus.”
Simpel
sekali kalimat Ibu itu. Tapi Kawan, bayangkan saja. Bagaimana tidak menjadi
beban pikiran? Ibu selalu membahas masalah itu berulang-ulang. Kalimat tadi
malam seolah membobol wadah penampung kalimat-kalimat Ibu, tak muat lagi
kapasitasnya. Jebol. Membuatku berpikir. Ya, memang sudah seharusnya aku
mencari pendamping hidup. Umurku baru 26, masih tergolong muda.
Tadi
malam juga sempat kubuka catatan perihal rencana hidupku yang aku tulis saat
menjadi mahasiswa dulu. Kutuliskan semua rencana yang menjadi harapanku. Di
sana juga kutuliskan target perempuan. Nama Hasma juga aku tuliskan, yang lain
ada dua teman SMA, dan teman satu fakultas dulu. Di antara nama-nama itu yang
paling membuatku tertarik adalah Hasma. Maka pagi ini rencananya aku ingin tahu
kabar tentangnya. Kebetulan dalam organisasi LDK itu kami sudah saling
mengenal. Jadi jika aku bertemu dengannya tak lain hanyalah berjumpa kawan
lama.
Terakhir
kutemui ia di sebuah ruko. Mempunyai toko busana muslimah, terutama kerudung.
Sekarang rencananya akan kutemui ia di kiosnya. Bersiasat membeli kerudung.
Tidak mungkin aku berkata jujur bahwa datang ke sana hanya ingin bertegur sapa
lantas ujung-ujungnya mengajukan lamaran. Apa yang akan ia bilang nanti kalau
begitu? Aku tak mau salah ambil langkah. Mencari jodoh tentu perlu perencanaan
yang sistematis.
Sebenarya
aku belum tahu bagaimana akhlaknya. Yang kebanyakan aku tahu hanya luarnya.
Apalagi gayanya yang berjilbab dan berbaju muslimah. Sungguh mencerminkan
perempuan Islam. Dalam hal ini tentunya harus ada pendekatan dulu. Bukan
pacaran, melainkan ta’aruf. Ah, aku berani jamin perempuan bergaya Islami
seperti Hasma adalah tipe yang anti pacaran. Kalau aku tahu ia punya pacar,
tentu takkan mau aku dengannya. Masih banyak perempuan lain yang bisa menjaga
hatinya.
Pagi
ini mentari mulai naik. Pukul sembilan. Suhu yang ideal. Antara panas dan
dingin. Setelah berkendara dengan motorku, aku sampai. Oh, entah kenapa
jantungku mendadak berdegup kencang. Grogi. Aku grogi. Baru saja aku berhenti
di depan kiosnya—yang berukuran 6x8—ia tersenyum. Tengah menulis sesuatu.
Etalase toko dijadikan meja tulisnya.
Aku
membalas senyum. Menghampiri. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum
salam.” Jawabnya sambil menelungkupkan tangan, membalas ‘jabatan’ tanganku.
“Aih, tumben ke sini. Ada yang bisa saya bantu, Kang?”
Oh,
satu-satunya perempuan yang memanggilku dengan kata ganti ‘Akang’ ini adalah
Hasma. Biasanya yang di bawah umurku memanggil ‘Kakak’. Meski aku tidak suka
dipanggil ‘Akang’, tapi kalau dia yang memanggil, maka tidak apa. Aku menjawab,
“Ada kerudung?”
“Tuh
banyak. Tinggal pilih saja.” Hasma menunjuk pada koleksi kerudung-kerudungnya.
Warna-warni. Ada yang bermotif, ada yang tidak. “Buat siapa, Kang? Calon istri,
ya?” Senyum-senyum.
“Eh,
bukan. Ini buat Ibu.”
“Oh.”
“Bagusnya
yang mana ya?”
Hasma
memilih-milih. Jari-jari lentiknya begitu indah menari, memilih-milih. Oh,
ingin sekali aku menggenggamnya. Aku segera beristighfar. Kalau dilanjutkan
lamunan ini akan semakin ‘ngeres’.
“Yang
ini bagaimana? Eh, Ibunya suka warna apa?” Hasma memilihkan yang berwarna
cokelat.
Aku
diam. Entahlah Ibu suka warna apa. Tak terlalu memperhatikan. Terbesit rasa
bersalah, padahal Ibu setiap hari aku temui. Kenapa sampai tidak tahu apa yang
beliau senangi. Parahnya aku teringat saat masih SMA dulu. Ada perempuan yang
aku sukai, mendadak aku menjadi mata-mata. Mencari apa yang dia sukai. Tapi
ternyata ia punya pacar. Maka aku pun akhirnya sakit hati. Sia-sia upayaku itu
dalam mencari apa yang ia sukai. Dan pada akhirnya aku merasa menjadi orang
bodoh. Lha, sekarang dengan Hasma bertanya begitu, aku merasa berdosa pada Ibu!
“Ergh...
Hijau. Ya, hijau.” Aku menjawab asal. Hijau diambil dari cat rumah. Dulu Ibu
sempat meminta Bapak memilih cat hijau ketika mau mengganti cat. Aku pula yang
mengoleskan ke seluruh dinding, dibantu oleh Bapak.
“Yang
ini kayaknya cocok.” Hasma memberikan kerudung hijaunya.
Ah, ia
memang pandai memilihkan untuk calon mertua. Aku menyeringai dengan pikiranku
barusan. Menjawab, “Ergh, beli dua saja, Has.”
-o0o-
Membeli
kerudung adalah hari pertama menuju tahap pencarian jodoh. Seminggu kemudian
aku ke sana lagi, berniat membeli baju muslimah. Sengaja kuberi jarak satu
minggu agar ia tidak curiga. Berbeda dengan seminggu lalu ia cuma sendiri,
sekarang ia bersama seorang perempuan. Entah siapa. Mungkin teman atau
saudaranya. Aku taksir umur mereka tidak beda jauh.
“Ada
baju yang bagus, nggak?” Tanyaku.
Hasma
malah menyeringai. “Akang! Kalau Akang tanya aku mana yang bagus, maka semuanya
bagus.”
Aku
salah tingkah menghadapi senyumnya. Hanya bisa senyum-senyum.
“Buat
Ibunya lagi?” Tanyanya. Memberi isyarat pada rekannya untuk memperlihatkan
beberapa desain baju.
“Bukan.”
“Calon
istri?”
“Bukan.
Buat saudara.” Jawabku asal. Ya Allah, maafkanlah karena aku telah berbohong.
Tapi aku janji akan memberikannya pada saudara sepupuku. Ah, kebetulan sekali
di bulan ini ada yang ulang tahun. Maka sekarang aku tidak sedang berbohong.
Itu fakta.
Di
minggu ketiga, aku membeli aksesoris seperti bros untuk dipasang di kerudung.
Beralasan untuk anak-anak tetangga.
Di
minggu keempat, aku membeli kerudung, untuk teman yang ulang tahun.
Di
minggu kelima, aku membeli baju. Beralasan untuk nenek.
Ah, dua
bulan lamanya aku berkunjung setiap minggu. Misiku berhasil. Hasma mulai
mengenaliku lebih, begitu pun sebaliknya. Bahkan kami kadang bercanda. Saling
melempar guyonan. Aku lega bercampur grogi. Hanya tinggal selangkah lagi.
Mengajukan lamaran, itu saja. Tentang selanjutnya bagaimana, biarkan Allah yang
mengatur. Setidaknya aku sudah berusaha sejauh ini.
Maka
ketika ia suatu hari bertanya, “Buat siapa kali ini?”
“Calon
istriku.” Aku menyeringai.
“Wah,
jadi sekarang sudah ada? Siapa, Kang?”
“Yang
pasti perempuan. Masa cowok? Temanku dulu.”
“Cie...
Sahabat jadi cinta.” Sedikit tertawa.
“Eh,
kalau kamu kapan nikah?” Sungguh! Dari dulu aku ingin bertanya hal ini.
Selanjutnya maka mudah bagiku. Tinggal kumpulkan keberanian dan ucapkan.
“Ergh...
Nggak tahu. Belum ada yang berani menyatakan cinta di depan Ayahku.” Menyeringai.
Angin
senja menelisik telingaku. Hiruk pikuk dunia ini entah kenapa jadi terasa sunyi
nan sepi. Menahan napas. Ini saat yang tepat untuk bicara jujur. Tapi mulutku
entah kenapa mengkhianati, malah tidak mau berkata. Jantungku berdetak kencang.
Aku menelan ludah. Dengan bergetar aku berkata, “Hasma...”
“Ya,
Kang Ahmad? Ada apa lagi?” Hasma sibuk mengemas kerudung yang aku beli hari
ini. Berbicara tanpa menoleh padaku.
“Ergh...”
Ya Allah! Kenapa susah?
Hasma
menoleh karena mendengar gerungan tak jelasku. Mengernyitkan dahi. Namun
bibirnya terlukis senyum.
“A...
apa... bo... boleh aku ke rumahmu?”
“Boleh.
Ada apa memang? Tanya alamat buat ngasih undangan Akang nanti? Kasih ke sini
saja.”
Aku
menahan napas. Sungguh, bagian ini tidak semudah yang aku kira. Aku
mengumpulkan napas. Berkata, “Aku ingin berbicara dengan ayahmu. Aku ingin
melamarmu. Bolehkah? Yang barusan hanya bercanda. Aku belum punya calon. Lagi
mencari. Ergh, sekali lagi bolehkah aku ke rumahmu?” Aku memperlihatkan senyum
terbaikku.
Kali
ini Hasma yang terdiam. Bengong. Sebelum ia menjawab, aku segera meraih
bingkisan belanjaanku. Dan segera pamit dengan senyum, mengangguk pelan. Lantas
buru-buru ke motorku yang tengah parkir. Tak penting aku mendengar jawaban
darinya. Setidaknya maksudku bertanya itu hanya untuk membuatnya tidak terlalu
terkejut andaikan aku datang ke rumahnya nanti. Dan aku akan melakukannya malam
ini juga. Jauh-jauh hari aku sudah tahu di mana rumahnya. Dulu pernah aku
buntuti.
Sebelum
benar-benar menggas motor, aku menoleh lagi padanya. Ia masih terdiam,
menatapku bengong. Kali ini ia sendiri di tokonya. Tidak mungkin aku berani
mengatakan seperti barusan jika ada rekannya.
Ia pun
tersenyum. Manis sekali. Entah apa yang ada di pikirannya. Ah, misiku sukses
besar. Untuk menghadapi ayahnya, sudah kusiapkan berjuta kata-kata penuh
kewibawaan. Itu masalah kecil. Rumusnya sederhana: perlihatkan diri sebagai
seorang lelaki yang bertanggung jawab dan berani memimpin, maka calon mertua
pasti akan berkata setuju. Aku tak boleh kelihatan grogi. Harus berani.
-o0o-
“Sudah
bekerja?” Umur ayah Hasma aku taksir hampir 50 tahun. Sebagian rambutnya telah
berganti warna menjadi keperakan. Di lihat dari raut mukanya, beliau ramah.
Benar dugaanku sebelumnya. Anaknya bergaya ustadzah, pastilah ada dalang di
balik semua itu. Sebenarnya penampilan ayahnya tidak seperti ustadz yang ke mana-mana
selalu pakai baju koko dan peci. Ayah Hasma tidak begitu. Hanya memelihara
janggut tipis. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
“Alhamdulillah
sudah. Di sebuah perusahaan mobil.” Jawabku tenang. Sudah kubilang ini mudah
kan? Lihatlah aku yang kini tengah bersikap biasa saja. Dari tadi aku mencoba
mengikuti alur pembicaraan yang beliau tanyakan. Pertama pastilah asal dari
mana. Aku menjawab semuanya dengan tenang. Pengalamanku menghadapi atasan kerja
yang “super killer”, membuatku bisa lebih tenang menghadapi lawan bicara. Yang
super killer aku sudah bisa mengontrol diri, mengapa yang baik—seperti ayah
Hasma—tidak?
“Saya
kagum kamu bangga dengan pekerjaanmu sendiri. Dan saya yakin kamu akan menjadi
lelaki yang bertanggung jawab. Tapi masalahnya terserah Hasma mau atau tidak.”
Oh beliau setuju. Aku mengucapkan hamdalah berulang kali dalam hati. Dinginnya
malam menjadi terasa hangat. Seperti mentari di musim semi yang penuh bunga.
Sebulan
kami ta’aruf.
Sebulan
lagi kami merencanakan pernikahan.
Kulihat
perempuan itu merindu lelap. Saat malam pertama ini aku berbisik padanya, “Dulu
aku pernah menuliskan namamu dalam peta rancangan hidupku. Oh, mungkinkah jika
aku tidak menuliskan namamu sekarang kita tidak akan bersama?”
Perempuan
berjilbab lebar itu hanya tersenyum.
Aku
mencium keningnya setelah berdo’a seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW.
Hari ini aku tahu bahwa jodoh itu ada di tangan Allah, Sang Pemilik Jodoh.
Meski begitu, kita masih bisa memilih siapa yang jadi jodoh kita. Dengan
menuliskannya. Bawa nama-nama target pada-Nya. Biarkan Dia memilihkan siapa
yang pantas. Perhatikan aku, baru dinomor pertama sudah dapat. Padahal ada
empat perempuan yang jadi target. Eits tunggu, tunggu. Bisakah aku mencoba yang
nomor dua? Tiga? Dan empat? Ah, aku jadi teringat pernah membaca tulisan di
sebuah buku motivasi. Di sana ada gurauan. Hmm, tentunya Kawan hafal lagu
“Jagalah Hati”? Nah, di buku itu liriknya diganti menjadi. “Jagalah istri,
jangan kau poligami. Jagalah istri, jangan kau kawin lagi.”