Minggu, 21 Juni 2015

Cerpen: Biarkan Dia yang Memilih



          Aku dulu mengenalnya dalam organisasi mahasiswa. Ia anak baru, masih semester satu. Aku semester lima. Suatu hari pernah kuberanikan diri menyapanya. Saat itu aku menemuinya di perpustakaan daerah. Ah, sebenarnya hanya menyapa senyum, tak ada dialog.
          Di kampusku ada progam Unit Kegiatan Mahasiswa. Salah satu yang menarik perhatianku adalah tentang dakwah. LDK, Lembaga Dakwah Kampus. Dulu saat pertama masuk, aku langsung ikut menjadi anggota. Dan perempuan itu juga ikut menjadi anggota LDK. Sejak pertama aku melihatnya, selalu membuatku kagum. Bagaimana tidak, di tengah zaman serba maju ini, hampir setiap perempuan semakin memakai pakaian mini nan ketat. Bahkan aku ngeri jika melihat perempuan berjilbab namun berbaju ketat. Memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Tapi perempuan itu tidak. Malah mengenakan jilbab lebar dan baju longgar. Oh, aku kagum padanya.
          Namanya Hasma.
          Kejadian perkenalan itu sudah tertinggal jauh sekali. Empat tahun lalu aku baru saja lulus. Jadi sarjana Teknik Mesin. Alhamdulillah, saat aku lulus aku langsung mendapat pekerjaan di suatu perusahaan mobil. Hingga sekarang masih bekerja. Namun satu hal yang menjadi permasalahan adalah aku belum menikah.
          Hari ini pagi begitu riang menyapa. Tadi malam kupingku panas. Sempat berdebat dengan Ibu. Mungkin beliau sudah habis batas kekesalannya melihat anak bujangnya tidak kunjung menikah. Bapak tidak memaksa, mengerti bagaimana posisiku yang belum siap berumah tangga. Apalagi aku belum pernah merasakan dekat dengan perempuan. Oh, perempuan selalu membuatku panas dingin jika berhadapan. Bahkan berbicara pun takut. Entah kenapa.
          Namun tadi malam ada yang membuatku berpikir. Ya, ucapan Ibu menjadi perenungan malamku. “Cepatlah cari istri sana! Supaya kamu ada yang mengurus.”
          Simpel sekali kalimat Ibu itu. Tapi Kawan, bayangkan saja. Bagaimana tidak menjadi beban pikiran? Ibu selalu membahas masalah itu berulang-ulang. Kalimat tadi malam seolah membobol wadah penampung kalimat-kalimat Ibu, tak muat lagi kapasitasnya. Jebol. Membuatku berpikir. Ya, memang sudah seharusnya aku mencari pendamping hidup. Umurku baru 26, masih tergolong muda.
          Tadi malam juga sempat kubuka catatan perihal rencana hidupku yang aku tulis saat menjadi mahasiswa dulu. Kutuliskan semua rencana yang menjadi harapanku. Di sana juga kutuliskan target perempuan. Nama Hasma juga aku tuliskan, yang lain ada dua teman SMA, dan teman satu fakultas dulu. Di antara nama-nama itu yang paling membuatku tertarik adalah Hasma. Maka pagi ini rencananya aku ingin tahu kabar tentangnya. Kebetulan dalam organisasi LDK itu kami sudah saling mengenal. Jadi jika aku bertemu dengannya tak lain hanyalah berjumpa kawan lama.
          Terakhir kutemui ia di sebuah ruko. Mempunyai toko busana muslimah, terutama kerudung. Sekarang rencananya akan kutemui ia di kiosnya. Bersiasat membeli kerudung. Tidak mungkin aku berkata jujur bahwa datang ke sana hanya ingin bertegur sapa lantas ujung-ujungnya mengajukan lamaran. Apa yang akan ia bilang nanti kalau begitu? Aku tak mau salah ambil langkah. Mencari jodoh tentu perlu perencanaan yang sistematis.
          Sebenarya aku belum tahu bagaimana akhlaknya. Yang kebanyakan aku tahu hanya luarnya. Apalagi gayanya yang berjilbab dan berbaju muslimah. Sungguh mencerminkan perempuan Islam. Dalam hal ini tentunya harus ada pendekatan dulu. Bukan pacaran, melainkan ta’aruf. Ah, aku berani jamin perempuan bergaya Islami seperti Hasma adalah tipe yang anti pacaran. Kalau aku tahu ia punya pacar, tentu takkan mau aku dengannya. Masih banyak perempuan lain yang bisa menjaga hatinya.
          Pagi ini mentari mulai naik. Pukul sembilan. Suhu yang ideal. Antara panas dan dingin. Setelah berkendara dengan motorku, aku sampai. Oh, entah kenapa jantungku mendadak berdegup kencang. Grogi. Aku grogi. Baru saja aku berhenti di depan kiosnya—yang berukuran 6x8—ia tersenyum. Tengah menulis sesuatu. Etalase toko dijadikan meja tulisnya.
          Aku membalas senyum. Menghampiri. “Assalamu’alaikum.”
          “Wa’alaikum salam.” Jawabnya sambil menelungkupkan tangan, membalas ‘jabatan’ tanganku. “Aih, tumben ke sini. Ada yang bisa saya bantu, Kang?”
          Oh, satu-satunya perempuan yang memanggilku dengan kata ganti ‘Akang’ ini adalah Hasma. Biasanya yang di bawah umurku memanggil ‘Kakak’. Meski aku tidak suka dipanggil ‘Akang’, tapi kalau dia yang memanggil, maka tidak apa. Aku menjawab, “Ada kerudung?”
          “Tuh banyak. Tinggal pilih saja.” Hasma menunjuk pada koleksi kerudung-kerudungnya. Warna-warni. Ada yang bermotif, ada yang tidak. “Buat siapa, Kang? Calon istri, ya?” Senyum-senyum.
          “Eh, bukan. Ini buat Ibu.”
          “Oh.”
          “Bagusnya yang mana ya?”
          Hasma memilih-milih. Jari-jari lentiknya begitu indah menari, memilih-milih. Oh, ingin sekali aku menggenggamnya. Aku segera beristighfar. Kalau dilanjutkan lamunan ini akan semakin ‘ngeres’.
          “Yang ini bagaimana? Eh, Ibunya suka warna apa?” Hasma memilihkan yang berwarna cokelat.
          Aku diam. Entahlah Ibu suka warna apa. Tak terlalu memperhatikan. Terbesit rasa bersalah, padahal Ibu setiap hari aku temui. Kenapa sampai tidak tahu apa yang beliau senangi. Parahnya aku teringat saat masih SMA dulu. Ada perempuan yang aku sukai, mendadak aku menjadi mata-mata. Mencari apa yang dia sukai. Tapi ternyata ia punya pacar. Maka aku pun akhirnya sakit hati. Sia-sia upayaku itu dalam mencari apa yang ia sukai. Dan pada akhirnya aku merasa menjadi orang bodoh. Lha, sekarang dengan Hasma bertanya begitu, aku merasa berdosa pada Ibu!
          “Ergh... Hijau. Ya, hijau.” Aku menjawab asal. Hijau diambil dari cat rumah. Dulu Ibu sempat meminta Bapak memilih cat hijau ketika mau mengganti cat. Aku pula yang mengoleskan ke seluruh dinding, dibantu oleh Bapak.
          “Yang ini kayaknya cocok.” Hasma memberikan kerudung hijaunya.
          Ah, ia memang pandai memilihkan untuk calon mertua. Aku menyeringai dengan pikiranku barusan. Menjawab, “Ergh, beli dua saja, Has.”
-o0o-
          Membeli kerudung adalah hari pertama menuju tahap pencarian jodoh. Seminggu kemudian aku ke sana lagi, berniat membeli baju muslimah. Sengaja kuberi jarak satu minggu agar ia tidak curiga. Berbeda dengan seminggu lalu ia cuma sendiri, sekarang ia bersama seorang perempuan. Entah siapa. Mungkin teman atau saudaranya. Aku taksir umur mereka tidak beda jauh.
          “Ada baju yang bagus, nggak?” Tanyaku.
          Hasma malah menyeringai. “Akang! Kalau Akang tanya aku mana yang bagus, maka semuanya bagus.”
          Aku salah tingkah menghadapi senyumnya. Hanya bisa senyum-senyum.
          “Buat Ibunya lagi?” Tanyanya. Memberi isyarat pada rekannya untuk memperlihatkan beberapa desain baju.
          “Bukan.”
          “Calon istri?”
          “Bukan. Buat saudara.” Jawabku asal. Ya Allah, maafkanlah karena aku telah berbohong. Tapi aku janji akan memberikannya pada saudara sepupuku. Ah, kebetulan sekali di bulan ini ada yang ulang tahun. Maka sekarang aku tidak sedang berbohong. Itu fakta.
          Di minggu ketiga, aku membeli aksesoris seperti bros untuk dipasang di kerudung. Beralasan untuk anak-anak tetangga.
          Di minggu keempat, aku membeli kerudung, untuk teman yang ulang tahun.
          Di minggu kelima, aku membeli baju. Beralasan untuk nenek.
          Ah, dua bulan lamanya aku berkunjung setiap minggu. Misiku berhasil. Hasma mulai mengenaliku lebih, begitu pun sebaliknya. Bahkan kami kadang bercanda. Saling melempar guyonan. Aku lega bercampur grogi. Hanya tinggal selangkah lagi. Mengajukan lamaran, itu saja. Tentang selanjutnya bagaimana, biarkan Allah yang mengatur. Setidaknya aku sudah berusaha sejauh ini.
          Maka ketika ia suatu hari bertanya, “Buat siapa kali ini?”
          “Calon istriku.” Aku menyeringai.
          “Wah, jadi sekarang sudah ada? Siapa, Kang?”
          “Yang pasti perempuan. Masa cowok? Temanku dulu.”
          “Cie... Sahabat jadi cinta.” Sedikit tertawa.
          “Eh, kalau kamu kapan nikah?” Sungguh! Dari dulu aku ingin bertanya hal ini. Selanjutnya maka mudah bagiku. Tinggal kumpulkan keberanian dan ucapkan.
          “Ergh... Nggak tahu. Belum ada yang berani menyatakan cinta di depan Ayahku.” Menyeringai.
          Angin senja menelisik telingaku. Hiruk pikuk dunia ini entah kenapa jadi terasa sunyi nan sepi. Menahan napas. Ini saat yang tepat untuk bicara jujur. Tapi mulutku entah kenapa mengkhianati, malah tidak mau berkata. Jantungku berdetak kencang. Aku menelan ludah. Dengan bergetar aku berkata, “Hasma...”
          “Ya, Kang Ahmad? Ada apa lagi?” Hasma sibuk mengemas kerudung yang aku beli hari ini. Berbicara tanpa menoleh padaku.
          “Ergh...” Ya Allah! Kenapa susah?
          Hasma menoleh karena mendengar gerungan tak jelasku. Mengernyitkan dahi. Namun bibirnya terlukis senyum.
          “A... apa... bo... boleh aku ke rumahmu?”
          “Boleh. Ada apa memang? Tanya alamat buat ngasih undangan Akang nanti? Kasih ke sini saja.”
          Aku menahan napas. Sungguh, bagian ini tidak semudah yang aku kira. Aku mengumpulkan napas. Berkata, “Aku ingin berbicara dengan ayahmu. Aku ingin melamarmu. Bolehkah? Yang barusan hanya bercanda. Aku belum punya calon. Lagi mencari. Ergh, sekali lagi bolehkah aku ke rumahmu?” Aku memperlihatkan senyum terbaikku.
          Kali ini Hasma yang terdiam. Bengong. Sebelum ia menjawab, aku segera meraih bingkisan belanjaanku. Dan segera pamit dengan senyum, mengangguk pelan. Lantas buru-buru ke motorku yang tengah parkir. Tak penting aku mendengar jawaban darinya. Setidaknya maksudku bertanya itu hanya untuk membuatnya tidak terlalu terkejut andaikan aku datang ke rumahnya nanti. Dan aku akan melakukannya malam ini juga. Jauh-jauh hari aku sudah tahu di mana rumahnya. Dulu pernah aku buntuti.
          Sebelum benar-benar menggas motor, aku menoleh lagi padanya. Ia masih terdiam, menatapku bengong. Kali ini ia sendiri di tokonya. Tidak mungkin aku berani mengatakan seperti barusan jika ada rekannya.
          Ia pun tersenyum. Manis sekali. Entah apa yang ada di pikirannya. Ah, misiku sukses besar. Untuk menghadapi ayahnya, sudah kusiapkan berjuta kata-kata penuh kewibawaan. Itu masalah kecil. Rumusnya sederhana: perlihatkan diri sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab dan berani memimpin, maka calon mertua pasti akan berkata setuju. Aku tak boleh kelihatan grogi. Harus berani.
-o0o-
          “Sudah bekerja?” Umur ayah Hasma aku taksir hampir 50 tahun. Sebagian rambutnya telah berganti warna menjadi keperakan. Di lihat dari raut mukanya, beliau ramah. Benar dugaanku sebelumnya. Anaknya bergaya ustadzah, pastilah ada dalang di balik semua itu. Sebenarnya penampilan ayahnya tidak seperti ustadz yang ke mana-mana selalu pakai baju koko dan peci. Ayah Hasma tidak begitu. Hanya memelihara janggut tipis. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
          “Alhamdulillah sudah. Di sebuah perusahaan mobil.” Jawabku tenang. Sudah kubilang ini mudah kan? Lihatlah aku yang kini tengah bersikap biasa saja. Dari tadi aku mencoba mengikuti alur pembicaraan yang beliau tanyakan. Pertama pastilah asal dari mana. Aku menjawab semuanya dengan tenang. Pengalamanku menghadapi atasan kerja yang “super killer”, membuatku bisa lebih tenang menghadapi lawan bicara. Yang super killer aku sudah bisa mengontrol diri, mengapa yang baik—seperti ayah Hasma—tidak?
          “Saya kagum kamu bangga dengan pekerjaanmu sendiri. Dan saya yakin kamu akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Tapi masalahnya terserah Hasma mau atau tidak.” Oh beliau setuju. Aku mengucapkan hamdalah berulang kali dalam hati. Dinginnya malam menjadi terasa hangat. Seperti mentari di musim semi yang penuh bunga.
          Sebulan kami ta’aruf.
          Sebulan lagi kami merencanakan pernikahan.
          Kulihat perempuan itu merindu lelap. Saat malam pertama ini aku berbisik padanya, “Dulu aku pernah menuliskan namamu dalam peta rancangan hidupku. Oh, mungkinkah jika aku tidak menuliskan namamu sekarang kita tidak akan bersama?”
          Perempuan berjilbab lebar itu hanya tersenyum.
          Aku mencium keningnya setelah berdo’a seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Hari ini aku tahu bahwa jodoh itu ada di tangan Allah, Sang Pemilik Jodoh. Meski begitu, kita masih bisa memilih siapa yang jadi jodoh kita. Dengan menuliskannya. Bawa nama-nama target pada-Nya. Biarkan Dia memilihkan siapa yang pantas. Perhatikan aku, baru dinomor pertama sudah dapat. Padahal ada empat perempuan yang jadi target. Eits tunggu, tunggu. Bisakah aku mencoba yang nomor dua? Tiga? Dan empat? Ah, aku jadi teringat pernah membaca tulisan di sebuah buku motivasi. Di sana ada gurauan. Hmm, tentunya Kawan hafal lagu “Jagalah Hati”? Nah, di buku itu liriknya diganti menjadi. “Jagalah istri, jangan kau poligami. Jagalah istri, jangan kau kawin lagi.”

Cerpen: Ayah, Rindu Itu Apa Sih?



          Ya Allah, jangan Engkau pertemukan aku dengan jodohku sekarang. Keadaanku masih pas-pasan. Imanku masih belum cukup untuk membimbing seorang istri kurasa. Toh membimbing diriku sendiri aku belum bisa. Tapi Ya Allah, sungguh, aku benar-benar rindu jodohku. Aku ingin dia sekarang tapi belum mapan dalam soal duit. Aku takut tidak bisa menafkahi. Untuk itu Ya Allah, aku ingin sukses sekarang juga. Aku ingin menjemput jodohku dengan keadaan yang keren. Aamiin.”

          Ah, aku masih ingat do’aku saat belum menikah dulu. Umurku waktu itu masih berumur 30 tahun. Umur segitu apa bisa dikatakan telat menikah bagi seorang laki-laki? Ah, entahlah. Saat itu umur kian menua, pekerjaan belum tetap (bahasa sopan dari pengangguran). Aku mengais rupiah dari orang-orang yang butuh bantuan. Alhasil, aku menjadi kurang kaya (bahasa sopan dari miskin). Tapi itulah aku, dikenal sebagai bujang berhati baik.

          Remaja pacaran, suami istri mengaji berdua, ayah menggendong anak, tangis tawa seorang anak, bahkan tempat yang romantis membuatku iri pada mereka yang sudah menemukan jodohnya. Perasaan rindu semakin membuncah. Hanya karena aku melihat perempuan muslimah—yang baru pindah ke kampungku—aku jadi berdo’a seperti yang telah kalian baca di atas.

          Tak terasa, kini do’a itu sudah tertinggal jauh lima belas tahun yang lalu. Aku tersenyum tipis, menghela napas. Di depanku, dua ‘kurcaci’ menggemaskan tengah berdebat.

          “Ini di sini! Itu di sana!” Fauziah bersikeras mengurus perabotannya. Dalam imajinasinya sepetak keramik menjadi sebuah kamar. Ia membentak kakaknya yang salah meletakan lemari dan cermin rias.

          “Masa lemari dekat kasur? Agak jauhkan dikit. Laci yang pantas malah di ujung kasur.” Alisa memasang wajah sebal. Entah bagaimana seharusnya, di mata adiknya ia selalu salah. Tapi baiknya Alisa ini pengertian. Aku selalu percaya pada Alisa untuk bisa menjaga Fauziah. Sehingga meringankan aku dan istriku mengurus buah hati.

          “Biarin! Ini kan bohongan.” Kata Fauziah sambil menyusun perabotan menurut kehendaknya. Sepertinya sifat ini turun dari ibunya. Aku jadi ingat saat-saat membeli rumah dan menyusun isinya. Aku juga sempat berdebat.

          Kemilau kuning mentari senja menyapu ubin. Pot-pot tanaman hias di teras masing-masing memiliki bayangan yang terlihat memanjang. Namun tiba-tiba redup. Mungkin hanya sepuluh-limabelas detik kemilau itu memancar. Awan senja menjadi pelaku utama dalam pembungkusan cahaya itu. Mereka kembali meneruskan perdebatannya.

          “Fauzah! Bonekanya satu lagi mana? Kok ada dua?” Alisa tidak salah memanggil nama. Pernah Fauziah dipanggil Ujah, tapi malah ngambek. Katanya namanya norak. Makanya supaya lebih mudah, Fauziah dipanggil Fauzah. Ia pun menerima nickname itu dengan senang hati.

          “Dijilat anjing. Kata Pak Ustadz Umar anjing itu kan najis. Apalagi ludahnya. Benar kan, Yah?” Fauziah menoleh padaku. Aku hanya mengangguk seraya tersenyum. “Bersihinnya harus pake tanah. Daripada ribet, jadi Fauzah buang. Lagipula cuma satu kan? Masih ada dua lagi,” lanjutnya.

          “Kok bisa dijilat? Kapan? Anjing mana? Padahal mending dicuci saja. Sayang kan kalau dibuang.” Alisa protes.

          “Sama si Bono. Pas main di rumah Sumi, bonekanya jatuh. Mungkin dikira makanan, jadi dia jilat.” Fauziah menjawab tak peduli. Sibuk dengan bonekanya. “Mungkin masih ada di halamannya Sumi. Kakak cek saja. Bawa kalau sayang.”

          Alisa menyengir, aku tersenyum geli. Menenangkan, “Nanti kita beli lagi. Hari Minggu nanti kita belanja.” Perkataanku ini membuat dua ‘kurcaci’ itu menyeringai senang—apalagi Fauziah, lebar sekali. Padahal maksudku menyenangkan hati Alisa. Aku tahu boneka yang dibuang itu boneka kesayangan Alisa. Tapi ternyata seringai Fauziah lebih lebar daripada Alisa.

          Ah, dua bocah kecil itu memang selalu membuatku bahagia. Senyum mereka itu yang paling aku sukai. Memang benar, tawa canda seorang anak adalah obat bagi setiap orangtua. Sungguh bodoh orangtua yang mengabaikan anaknya, tak membuat anaknya tersenyum riang. Di tengah kelelahan sehabis kerja, anak adalah sumber energi. Segala penat yang dibawa pulang tiba-tiba hilang ketika sampai di bingkai pintu dengan anak-anak yang menyambut. Dulu aku sempat tak percaya anak bisa membuat seorang ayah terus semangat mencari nafkah.

          Tahukah kalian yang menyakitkan bagi seorang ayah? Menurutku salah satunya adalah ketika anak memegang perutnya, terisak karena lapar. Sekujur tubuhnya kurus. Sedangkan ayahnya tidak tahu apa yang harus berbuat apa. “Ayah... lapar. Aku lapar.” Kalimat ini pasti sungguh menyayat hati seorang ayah.

          “Ayah janji? Ya? Ya?” Fauziah langsung lompat ke arahku. Aku sudah bisa membaca pikirannya. Siasatnya adalah bermanja-manja sekarang, memperlihatkan wajah lucunya yang dibalut jilbab. Minggu tiga hari lagi, pasti dari sekarang Fauziah akan jadi anak super baik dan penurut.

          “Ayah suka curang! Kemarin saja pas beli boneka, Fauzah dikasih yang besar. Alisa punya kecil.” Alisa sulungku mendadak mengemukakan pendapatnya. Penyakitnya mulai kambuh, mengungkit-ungkit pemberian yang ia pikir tidak adil.

          “Kan Alisa bisa pinjam punya Fauzah. Sepeda Fauzah juga kadang kamu pinjam kan? Kalian kan saudara. Bisa saling tukeran pinjam. Bajumu lebih bagus dari pada Fauzah. Lihat, Fauzah sendiri tidak iri padamu.”

          Alisa cemberut. Aku menghampirinya. Berbisik, “Anak ayah tidak boleh iri. Ustadz Umar pasti pernah mengajar tentang larangan iri hati kan? Ayo ah, Alisa kan sudah besar. Harus sudah bisa mengerti.”

          “Betul.” Fauziah so-mengerti perasaan kakaknya.

          Alisa mengangguk pelan. Aku mengusap-usap kepalanya. “Tapi nanti Minggu Alisa ingin dibelikan yang lebih bagus dari Fauzah, boleh?”

          Ya Tuhan, aku harus jawab apa? Mengangguk mengiyakan? Itu sama saja dengan membuat iri Fauziah nantinya. Kebingungan menghadapi tingkah dua kurcaciku ini tak terhitung jumlahnya. Entah berapa kali. Tapi meski begitu, lewat Alisa dan Fauziah aku jadi banyak mendapatkan pelajaran. Terutama pelajaran tentang keikhlasan menerima.

          Alisa menyandarkan dirinya ke pelukanku. Anak ini memang suka dipeluk. Persis seperti ibunya, belum bisa tidur kecuali aku memeluk seraya mengelus-elus kepalanya. Pernikahanku dengan perempuan yang membuatku berdo’a lima belas tahun yang lalu membuahkan anak yang rewelnya minta ampun. Apalagi Fauziah yang seolah tak pernah bosan bertanya. Fauziah bertanya ada baiknya juga. Ia jadi lebih berpengetahuan dibanding kakaknya.

          Hampir pukul lima sore, aku menyuruh Alisa dan Fauziah bersiap-siap mengaji di surau. Aku harap Ustadz Umar memberi materi yang bisa membuatku tidak kepusingan menghadapi Alisa dan Fauziah. Biasanya masukan dari guru akan lebih dituruti ketimbang masukan dari ayah-ibu. Sebenarnya dari tadi Ashar aku menyuruh mereka mandi, tapi mereka tidak mau. Malah mengajakku menghabiskan waktu di teras. Tiga cangkir susu dan setoples biskuit menjadi pelengkap. Tapi tak lama Fauziah mengajak kakaknya main rumah-rumahan. Aku diabaikan begitu saja. Posisiku digantikan oleh boneka plastik. Hingga terjadilah perdebatan itu.     

          Alisa dan Fauziah sudah menenteng juz ‘amma-nya masing-masing. Setelah mencium pipi mereka, membetulkan jilbab yang tak beres, mereka langsung kabur. Aku dengar bisik-bisik Fauziah tadi yang menantang siapa yang bisa lebih cepat sampai di surau. Alisa menyetujui langsung lari sambil mengucapkan salam setelah aku menciumnya. Aku jadi sendiri di teras. Istriku sedang tidur.

          Pernikahan yang indah. Berusia sekitar tiga belas tahun. Di tahun ketiga, lahir seorang Alisa kecil nan menggemaskan. Dua tahun kemudian lahirlah Fauziah. Tak terasa, mereka sudah sebesar sekarang ini. Dulu aku tak menyangka perempuan yang membuatku berdo’a di lima belas tahun lalu akan menjadi istriku. Berselang kira-kira dua tahun setelah berdo’a, aku ditawari menikah dengannya. Ayahnya memang menjadikan aku sebagai supirnya. Sebulan setelah keluarga itu pindahan, aku ditawari jadi supir. Awalnya hanya bincang-bincang di sebuah warung kecil. Selama menjadi pekerja serabutan aku memang sering nongkrong di warung kecil. Kebiasaan para pemuda kampung memang begitu. Sambil ngopi.

           Awalnya tawaran bekerja menjadi supir itu dilontarkan padaku setelah tak sengaja lewat di depan rumahnya. Beliau bermasalah dengan mobilnya yang ngadat. Aku beranikan diri membantu. Berhasil. Mobilnya bisa dipakai lagi. Ya, mungkin karena kejadian itu beliau menawariku menjadi supir. Tahu mesin mobil pasti bisa memakai mobil, mungkin begitu pikirnya. Satu setengah tahun aku mengabdi jadi supir padanya. Setelah itu aku ditawari mengelola bengkel. Dari bengkel itulah aku merasa menjadi ‘orang’.

          Setengah tahun setelah mengurus bengkel, aku menikah. Oh, mungkinkah aku tidak akan sukses plus menikah jika tidak berdo’a di lima belas tahun yang lalu? Aku masih ingat saat bunga-bunga bermekaran bagai di musim semi. Saat mimpi-mimpi mulai kurajut berdua. Saat rencana-rencana ke depan membuat aku dan istriku semakin yakin. Aku dan istriku membuat janji setia. Cinta memang paling indah di awal, selanjutnya masih sama indah. Tapi keindahannya tak seindah di awal kurasa.

          Cinta kita tak akan hilang sebelum,
          Seekor unta bisa masuk ke dalam lubang jarum.
          Cinta kita tak akan hilang sebelum,
          Lautan kehilangan samudra biru.

          Puisi itu aku bisikkan saat bulan madu dulu. Ah, benar-benar cinta yang indah. Mungkin bagi segelintir orang puisi itu tergolong melankolis. Tapi cobalah berpikir adil, bersikap bijaksana. Kita sering mencap sepasang insan yang bermadu kasih itu berlebih-lebihan dalam menggombal. Sekarang kalau kita sendiri yang bermadu kasih, apa senang dicap berlebih-lebihan nan putis? Tentu tidak. Kita pasti malah mengira puisi yang kita ungkapkan benar-benar romantis—meski kata orang terdengar norak. Kita tetap percaya diri cinta kita adalah yang paling romantis sepanjang sejarah. Sepanjang sejarah? Oh, itu hiperbola sekali namanya.

          Mentari perlahan turun ke peraduannya. Sayang, aku tak melihatnya cukup jelas. Masih tertutup awan.
-o0o-
          Malam harinya, Fauziah rewel bertanya. Harapanku tadi sore tak terwujud. Ustadz Umar entah bercerita apa sehingga membuat bungsuku menjadi penanya bawel. Planet. Mars. Meteor. Bulan. Bintang. Ah, entahlah. Sepertinya Ustadz Umar berubah dari guru agama menjadi guru astronomi. Berbeda dengan Alisa, ia hanya diam. Malah aku lihat ia melamun.

          Saat mengecup kening Alisa di penghujung tidur, Alisa berkata lirih, “Ayah, Ibu sedang apa?” Oh jadi karena ini mungkin. Alisa banyak diam karena teringat bundanya.

          Pernikahan yang indah. Berusia sekitar tiga belas tahun. Di tahun ketiga, lahir seorang Alisa kecil nan menggemaskan. Dua tahun kemudian lahirlah Fauziah. Dan dua tahun kemudian aku disuruh oleh-Nya mengasuh seorang diri dua buah hati sekaligus. 

          “Alisa ingin bertemu Ibu...”

          Tuhan, entah sudah kesekian kalinya aku kewalahan menghadapi segala kalimat dari kurcaciku ini. Aku tersenyum dan berkata, “Ibumu sedang tidur.”

          Pernikahan yang indah. Berusia sekitar tiga belas tahun. Menghasilkan dua buah hati yang selalu membuatku belajar. Belajar menjadi ibu. Belajar tentang keikhlasan menerima. Berkat Alisa dan Fauziah, aku tidak bersedih. Hei, bagaimana bisa aku menenangkan rindu—seperti yang sedang dialami Alisa kini—sedangkan aku sendiri juga sama rindu? Sama merasa kehilangan? Sama merasa kesedihan? Namun berkat Alisa dan Fauziah, aku mengerti. Pernikahan akan selalu terasa sakinah, mawadah, warahmah ketika kita mampu ikhlas pada semua kehendak Tuhan.

          “Ayah, Alisa rindu Ibu. Ergh... Ah ya, Ayah, kenapa rindu seperti ini rasanya? Rasanya seperti ingin memeluk Ibu. Ayah, rindu itu apa sih?”

          Oh, adakah di antara kalian yang mampu menjawab pertanyaan sulungku ini?