“Ya Allah, jangan Engkau pertemukan
aku dengan jodohku sekarang. Keadaanku masih pas-pasan. Imanku masih belum
cukup untuk membimbing seorang istri kurasa. Toh membimbing diriku sendiri aku belum bisa. Tapi Ya Allah, sungguh,
aku benar-benar rindu jodohku. Aku ingin dia sekarang tapi belum mapan dalam
soal duit. Aku takut tidak bisa menafkahi. Untuk itu Ya Allah, aku ingin sukses
sekarang juga. Aku ingin menjemput jodohku dengan keadaan yang keren. Aamiin.”
Ah, aku masih ingat do’aku saat belum
menikah dulu. Umurku waktu itu masih berumur 30 tahun. Umur segitu apa bisa
dikatakan telat menikah bagi seorang laki-laki? Ah, entahlah. Saat itu umur
kian menua, pekerjaan belum tetap (bahasa sopan dari pengangguran). Aku mengais
rupiah dari orang-orang yang butuh bantuan. Alhasil, aku menjadi kurang kaya
(bahasa sopan dari miskin). Tapi itulah aku, dikenal sebagai bujang berhati
baik.
Remaja pacaran, suami istri mengaji
berdua, ayah menggendong anak, tangis tawa seorang anak, bahkan tempat yang
romantis membuatku iri pada mereka yang sudah menemukan jodohnya. Perasaan
rindu semakin membuncah. Hanya karena aku melihat perempuan muslimah—yang baru
pindah ke kampungku—aku jadi berdo’a seperti yang telah kalian baca di atas.
Tak terasa, kini do’a itu sudah
tertinggal jauh lima belas tahun yang lalu. Aku tersenyum tipis, menghela
napas. Di depanku, dua ‘kurcaci’ menggemaskan tengah berdebat.
“Ini di sini! Itu di sana!” Fauziah
bersikeras mengurus perabotannya. Dalam imajinasinya sepetak keramik menjadi
sebuah kamar. Ia membentak kakaknya yang salah meletakan lemari dan cermin
rias.
“Masa lemari dekat kasur? Agak jauhkan
dikit. Laci yang pantas malah di ujung kasur.” Alisa memasang wajah sebal.
Entah bagaimana seharusnya, di mata adiknya ia selalu salah. Tapi baiknya Alisa
ini pengertian. Aku selalu percaya pada Alisa untuk bisa menjaga Fauziah.
Sehingga meringankan aku dan istriku mengurus buah hati.
“Biarin! Ini kan bohongan.” Kata Fauziah sambil menyusun perabotan menurut kehendaknya. Sepertinya sifat ini turun
dari ibunya. Aku jadi ingat saat-saat membeli rumah dan menyusun isinya. Aku
juga sempat berdebat.
Kemilau kuning mentari senja menyapu
ubin. Pot-pot tanaman hias di teras masing-masing memiliki bayangan yang
terlihat memanjang. Namun tiba-tiba redup. Mungkin hanya sepuluh-limabelas
detik kemilau itu memancar. Awan senja menjadi pelaku utama dalam pembungkusan
cahaya itu. Mereka kembali meneruskan perdebatannya.
“Fauzah! Bonekanya satu lagi mana? Kok
ada dua?” Alisa tidak salah memanggil nama. Pernah Fauziah dipanggil Ujah, tapi
malah ngambek. Katanya namanya norak. Makanya supaya lebih mudah, Fauziah
dipanggil Fauzah. Ia pun menerima nickname itu dengan senang hati.
“Dijilat anjing. Kata Pak Ustadz Umar
anjing itu kan najis. Apalagi ludahnya. Benar kan, Yah?” Fauziah menoleh
padaku. Aku hanya mengangguk seraya tersenyum. “Bersihinnya harus pake tanah.
Daripada ribet, jadi Fauzah buang. Lagipula cuma satu kan? Masih ada dua lagi,”
lanjutnya.
“Kok bisa dijilat? Kapan? Anjing mana?
Padahal mending dicuci saja. Sayang kan kalau dibuang.” Alisa protes.
“Sama si Bono. Pas main di rumah Sumi,
bonekanya jatuh. Mungkin dikira makanan, jadi dia jilat.” Fauziah menjawab tak peduli. Sibuk dengan bonekanya. “Mungkin masih ada di halamannya Sumi.
Kakak cek saja. Bawa kalau sayang.”
Alisa menyengir, aku tersenyum geli.
Menenangkan, “Nanti kita beli lagi. Hari Minggu nanti kita belanja.”
Perkataanku ini membuat dua ‘kurcaci’ itu menyeringai senang—apalagi Fauziah,
lebar sekali. Padahal maksudku menyenangkan hati Alisa. Aku tahu boneka yang
dibuang itu boneka kesayangan Alisa. Tapi ternyata seringai Fauziah lebih lebar
daripada Alisa.
Ah, dua bocah kecil itu memang selalu
membuatku bahagia. Senyum mereka itu yang paling aku sukai. Memang benar, tawa
canda seorang anak adalah obat bagi setiap orangtua. Sungguh bodoh orangtua
yang mengabaikan anaknya, tak membuat anaknya tersenyum riang. Di tengah
kelelahan sehabis kerja, anak adalah sumber energi. Segala penat yang dibawa
pulang tiba-tiba hilang ketika sampai di bingkai pintu dengan anak-anak yang
menyambut. Dulu aku sempat tak percaya anak bisa membuat seorang ayah terus
semangat mencari nafkah.
Tahukah kalian yang menyakitkan bagi
seorang ayah? Menurutku salah satunya adalah ketika anak memegang perutnya,
terisak karena lapar. Sekujur tubuhnya kurus. Sedangkan ayahnya tidak tahu apa
yang harus berbuat apa. “Ayah... lapar. Aku lapar.” Kalimat ini pasti sungguh
menyayat hati seorang ayah.
“Ayah janji? Ya? Ya?” Fauziah langsung
lompat ke arahku. Aku sudah bisa membaca pikirannya. Siasatnya adalah
bermanja-manja sekarang, memperlihatkan wajah lucunya yang dibalut jilbab.
Minggu tiga hari lagi, pasti dari sekarang Fauziah akan jadi anak super baik
dan penurut.
“Ayah suka curang! Kemarin saja pas
beli boneka, Fauzah dikasih yang besar. Alisa punya kecil.” Alisa sulungku
mendadak mengemukakan pendapatnya. Penyakitnya mulai kambuh, mengungkit-ungkit
pemberian yang ia pikir tidak adil.
“Kan Alisa bisa pinjam punya Fauzah.
Sepeda Fauzah juga kadang kamu pinjam kan? Kalian kan saudara. Bisa saling
tukeran pinjam. Bajumu lebih bagus dari pada Fauzah. Lihat, Fauzah sendiri
tidak iri padamu.”
Alisa cemberut. Aku menghampirinya.
Berbisik, “Anak ayah tidak boleh iri. Ustadz Umar pasti pernah mengajar tentang
larangan iri hati kan? Ayo ah, Alisa kan sudah besar. Harus sudah bisa
mengerti.”
“Betul.” Fauziah so-mengerti perasaan
kakaknya.
Alisa mengangguk pelan. Aku mengusap-usap
kepalanya. “Tapi nanti Minggu Alisa ingin dibelikan yang lebih bagus dari
Fauzah, boleh?”
Ya Tuhan, aku harus jawab apa?
Mengangguk mengiyakan? Itu sama saja dengan membuat iri Fauziah nantinya.
Kebingungan menghadapi tingkah dua kurcaciku ini tak terhitung jumlahnya. Entah
berapa kali. Tapi meski begitu, lewat Alisa dan Fauziah aku jadi banyak
mendapatkan pelajaran. Terutama pelajaran tentang keikhlasan menerima.
Alisa menyandarkan dirinya ke
pelukanku. Anak ini memang suka dipeluk. Persis seperti ibunya, belum bisa
tidur kecuali aku memeluk seraya mengelus-elus kepalanya. Pernikahanku dengan
perempuan yang membuatku berdo’a lima belas tahun yang lalu membuahkan anak
yang rewelnya minta ampun. Apalagi Fauziah yang seolah tak pernah bosan
bertanya. Fauziah bertanya ada baiknya juga. Ia jadi lebih berpengetahuan
dibanding kakaknya.
Hampir pukul lima sore, aku menyuruh
Alisa dan Fauziah bersiap-siap mengaji di surau. Aku harap Ustadz Umar memberi
materi yang bisa membuatku tidak kepusingan menghadapi Alisa dan Fauziah.
Biasanya masukan dari guru akan lebih dituruti ketimbang masukan dari ayah-ibu.
Sebenarnya dari tadi Ashar aku menyuruh mereka mandi, tapi mereka tidak mau.
Malah mengajakku menghabiskan waktu di teras. Tiga cangkir susu dan setoples
biskuit menjadi pelengkap. Tapi tak lama Fauziah mengajak kakaknya main
rumah-rumahan. Aku diabaikan begitu
saja. Posisiku digantikan oleh boneka plastik. Hingga terjadilah perdebatan
itu.
Alisa dan Fauziah sudah menenteng juz
‘amma-nya masing-masing. Setelah mencium pipi mereka, membetulkan jilbab yang
tak beres, mereka langsung kabur. Aku dengar bisik-bisik Fauziah tadi yang
menantang siapa yang bisa lebih cepat sampai di surau. Alisa menyetujui
langsung lari sambil mengucapkan salam setelah aku menciumnya. Aku jadi sendiri
di teras. Istriku sedang tidur.
Pernikahan yang indah. Berusia sekitar
tiga belas tahun. Di tahun ketiga, lahir seorang Alisa kecil nan menggemaskan.
Dua tahun kemudian lahirlah Fauziah. Tak terasa, mereka sudah sebesar sekarang
ini. Dulu aku tak menyangka perempuan yang membuatku berdo’a di lima belas
tahun lalu akan menjadi istriku. Berselang kira-kira dua tahun setelah berdo’a,
aku ditawari menikah dengannya. Ayahnya memang menjadikan aku sebagai supirnya.
Sebulan setelah keluarga itu pindahan, aku ditawari jadi supir. Awalnya hanya
bincang-bincang di sebuah warung kecil. Selama menjadi pekerja serabutan aku
memang sering nongkrong di warung kecil. Kebiasaan para pemuda kampung memang
begitu. Sambil ngopi.
Awalnya tawaran bekerja menjadi supir itu
dilontarkan padaku setelah tak sengaja lewat di depan rumahnya. Beliau
bermasalah dengan mobilnya yang ngadat. Aku beranikan diri membantu. Berhasil.
Mobilnya bisa dipakai lagi. Ya, mungkin karena kejadian itu beliau menawariku
menjadi supir. Tahu mesin mobil pasti bisa memakai mobil, mungkin begitu
pikirnya. Satu setengah tahun aku mengabdi jadi supir padanya. Setelah itu aku
ditawari mengelola bengkel. Dari bengkel itulah aku merasa menjadi ‘orang’.
Setengah tahun setelah mengurus
bengkel, aku menikah. Oh, mungkinkah aku tidak akan sukses plus menikah jika
tidak berdo’a di lima belas tahun yang lalu? Aku masih ingat saat bunga-bunga
bermekaran bagai di musim semi. Saat mimpi-mimpi mulai kurajut berdua. Saat rencana-rencana
ke depan membuat aku dan istriku semakin yakin. Aku dan istriku membuat janji
setia. Cinta memang paling indah di awal, selanjutnya masih sama indah. Tapi
keindahannya tak seindah di awal kurasa.
Cinta kita tak akan hilang sebelum,
Seekor unta bisa masuk ke dalam lubang
jarum.
Cinta kita tak akan hilang sebelum,
Lautan kehilangan samudra biru.
Puisi itu aku bisikkan saat bulan madu
dulu. Ah, benar-benar cinta yang indah. Mungkin bagi segelintir orang puisi itu
tergolong melankolis. Tapi cobalah berpikir adil, bersikap bijaksana. Kita
sering mencap sepasang insan yang bermadu kasih itu berlebih-lebihan dalam
menggombal. Sekarang kalau kita sendiri yang bermadu kasih, apa senang dicap
berlebih-lebihan nan putis? Tentu tidak. Kita pasti malah mengira puisi yang
kita ungkapkan benar-benar romantis—meski kata orang terdengar norak. Kita
tetap percaya diri cinta kita adalah yang paling romantis sepanjang sejarah.
Sepanjang sejarah? Oh, itu hiperbola sekali namanya.
Mentari perlahan turun ke peraduannya.
Sayang, aku tak melihatnya cukup jelas. Masih tertutup awan.
-o0o-
Malam harinya, Fauziah rewel bertanya.
Harapanku tadi sore tak terwujud. Ustadz Umar entah bercerita apa sehingga
membuat bungsuku menjadi penanya bawel. Planet. Mars. Meteor. Bulan. Bintang.
Ah, entahlah. Sepertinya Ustadz Umar berubah dari guru agama menjadi guru
astronomi. Berbeda dengan Alisa, ia hanya diam. Malah aku lihat ia melamun.
Saat mengecup kening Alisa di
penghujung tidur, Alisa berkata lirih, “Ayah, Ibu sedang apa?” Oh jadi karena
ini mungkin. Alisa banyak diam karena teringat bundanya.
Pernikahan yang indah. Berusia sekitar
tiga belas tahun. Di tahun ketiga, lahir seorang Alisa kecil nan menggemaskan.
Dua tahun kemudian lahirlah Fauziah. Dan dua tahun kemudian aku disuruh
oleh-Nya mengasuh seorang diri dua buah hati sekaligus.
“Alisa ingin bertemu Ibu...”
Tuhan, entah sudah kesekian kalinya
aku kewalahan menghadapi segala kalimat dari kurcaciku ini. Aku tersenyum dan
berkata, “Ibumu sedang tidur.”
Pernikahan yang indah. Berusia sekitar
tiga belas tahun. Menghasilkan dua buah hati yang selalu membuatku belajar.
Belajar menjadi ibu. Belajar tentang keikhlasan menerima. Berkat Alisa
dan Fauziah, aku tidak bersedih. Hei, bagaimana bisa aku menenangkan rindu—seperti
yang sedang dialami Alisa kini—sedangkan aku sendiri juga sama rindu? Sama
merasa kehilangan? Sama merasa kesedihan? Namun berkat Alisa dan Fauziah, aku
mengerti. Pernikahan akan selalu terasa sakinah, mawadah, warahmah ketika kita
mampu ikhlas pada semua kehendak Tuhan.
“Ayah, Alisa rindu Ibu. Ergh... Ah ya,
Ayah, kenapa rindu seperti ini rasanya? Rasanya seperti ingin memeluk Ibu.
Ayah, rindu itu apa sih?”
Oh, adakah di antara kalian yang mampu
menjawab pertanyaan sulungku ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar