Minggu, 21 Juni 2015

Cerpen: Ayah, Rindu Itu Apa Sih?



          Ya Allah, jangan Engkau pertemukan aku dengan jodohku sekarang. Keadaanku masih pas-pasan. Imanku masih belum cukup untuk membimbing seorang istri kurasa. Toh membimbing diriku sendiri aku belum bisa. Tapi Ya Allah, sungguh, aku benar-benar rindu jodohku. Aku ingin dia sekarang tapi belum mapan dalam soal duit. Aku takut tidak bisa menafkahi. Untuk itu Ya Allah, aku ingin sukses sekarang juga. Aku ingin menjemput jodohku dengan keadaan yang keren. Aamiin.”

          Ah, aku masih ingat do’aku saat belum menikah dulu. Umurku waktu itu masih berumur 30 tahun. Umur segitu apa bisa dikatakan telat menikah bagi seorang laki-laki? Ah, entahlah. Saat itu umur kian menua, pekerjaan belum tetap (bahasa sopan dari pengangguran). Aku mengais rupiah dari orang-orang yang butuh bantuan. Alhasil, aku menjadi kurang kaya (bahasa sopan dari miskin). Tapi itulah aku, dikenal sebagai bujang berhati baik.

          Remaja pacaran, suami istri mengaji berdua, ayah menggendong anak, tangis tawa seorang anak, bahkan tempat yang romantis membuatku iri pada mereka yang sudah menemukan jodohnya. Perasaan rindu semakin membuncah. Hanya karena aku melihat perempuan muslimah—yang baru pindah ke kampungku—aku jadi berdo’a seperti yang telah kalian baca di atas.

          Tak terasa, kini do’a itu sudah tertinggal jauh lima belas tahun yang lalu. Aku tersenyum tipis, menghela napas. Di depanku, dua ‘kurcaci’ menggemaskan tengah berdebat.

          “Ini di sini! Itu di sana!” Fauziah bersikeras mengurus perabotannya. Dalam imajinasinya sepetak keramik menjadi sebuah kamar. Ia membentak kakaknya yang salah meletakan lemari dan cermin rias.

          “Masa lemari dekat kasur? Agak jauhkan dikit. Laci yang pantas malah di ujung kasur.” Alisa memasang wajah sebal. Entah bagaimana seharusnya, di mata adiknya ia selalu salah. Tapi baiknya Alisa ini pengertian. Aku selalu percaya pada Alisa untuk bisa menjaga Fauziah. Sehingga meringankan aku dan istriku mengurus buah hati.

          “Biarin! Ini kan bohongan.” Kata Fauziah sambil menyusun perabotan menurut kehendaknya. Sepertinya sifat ini turun dari ibunya. Aku jadi ingat saat-saat membeli rumah dan menyusun isinya. Aku juga sempat berdebat.

          Kemilau kuning mentari senja menyapu ubin. Pot-pot tanaman hias di teras masing-masing memiliki bayangan yang terlihat memanjang. Namun tiba-tiba redup. Mungkin hanya sepuluh-limabelas detik kemilau itu memancar. Awan senja menjadi pelaku utama dalam pembungkusan cahaya itu. Mereka kembali meneruskan perdebatannya.

          “Fauzah! Bonekanya satu lagi mana? Kok ada dua?” Alisa tidak salah memanggil nama. Pernah Fauziah dipanggil Ujah, tapi malah ngambek. Katanya namanya norak. Makanya supaya lebih mudah, Fauziah dipanggil Fauzah. Ia pun menerima nickname itu dengan senang hati.

          “Dijilat anjing. Kata Pak Ustadz Umar anjing itu kan najis. Apalagi ludahnya. Benar kan, Yah?” Fauziah menoleh padaku. Aku hanya mengangguk seraya tersenyum. “Bersihinnya harus pake tanah. Daripada ribet, jadi Fauzah buang. Lagipula cuma satu kan? Masih ada dua lagi,” lanjutnya.

          “Kok bisa dijilat? Kapan? Anjing mana? Padahal mending dicuci saja. Sayang kan kalau dibuang.” Alisa protes.

          “Sama si Bono. Pas main di rumah Sumi, bonekanya jatuh. Mungkin dikira makanan, jadi dia jilat.” Fauziah menjawab tak peduli. Sibuk dengan bonekanya. “Mungkin masih ada di halamannya Sumi. Kakak cek saja. Bawa kalau sayang.”

          Alisa menyengir, aku tersenyum geli. Menenangkan, “Nanti kita beli lagi. Hari Minggu nanti kita belanja.” Perkataanku ini membuat dua ‘kurcaci’ itu menyeringai senang—apalagi Fauziah, lebar sekali. Padahal maksudku menyenangkan hati Alisa. Aku tahu boneka yang dibuang itu boneka kesayangan Alisa. Tapi ternyata seringai Fauziah lebih lebar daripada Alisa.

          Ah, dua bocah kecil itu memang selalu membuatku bahagia. Senyum mereka itu yang paling aku sukai. Memang benar, tawa canda seorang anak adalah obat bagi setiap orangtua. Sungguh bodoh orangtua yang mengabaikan anaknya, tak membuat anaknya tersenyum riang. Di tengah kelelahan sehabis kerja, anak adalah sumber energi. Segala penat yang dibawa pulang tiba-tiba hilang ketika sampai di bingkai pintu dengan anak-anak yang menyambut. Dulu aku sempat tak percaya anak bisa membuat seorang ayah terus semangat mencari nafkah.

          Tahukah kalian yang menyakitkan bagi seorang ayah? Menurutku salah satunya adalah ketika anak memegang perutnya, terisak karena lapar. Sekujur tubuhnya kurus. Sedangkan ayahnya tidak tahu apa yang harus berbuat apa. “Ayah... lapar. Aku lapar.” Kalimat ini pasti sungguh menyayat hati seorang ayah.

          “Ayah janji? Ya? Ya?” Fauziah langsung lompat ke arahku. Aku sudah bisa membaca pikirannya. Siasatnya adalah bermanja-manja sekarang, memperlihatkan wajah lucunya yang dibalut jilbab. Minggu tiga hari lagi, pasti dari sekarang Fauziah akan jadi anak super baik dan penurut.

          “Ayah suka curang! Kemarin saja pas beli boneka, Fauzah dikasih yang besar. Alisa punya kecil.” Alisa sulungku mendadak mengemukakan pendapatnya. Penyakitnya mulai kambuh, mengungkit-ungkit pemberian yang ia pikir tidak adil.

          “Kan Alisa bisa pinjam punya Fauzah. Sepeda Fauzah juga kadang kamu pinjam kan? Kalian kan saudara. Bisa saling tukeran pinjam. Bajumu lebih bagus dari pada Fauzah. Lihat, Fauzah sendiri tidak iri padamu.”

          Alisa cemberut. Aku menghampirinya. Berbisik, “Anak ayah tidak boleh iri. Ustadz Umar pasti pernah mengajar tentang larangan iri hati kan? Ayo ah, Alisa kan sudah besar. Harus sudah bisa mengerti.”

          “Betul.” Fauziah so-mengerti perasaan kakaknya.

          Alisa mengangguk pelan. Aku mengusap-usap kepalanya. “Tapi nanti Minggu Alisa ingin dibelikan yang lebih bagus dari Fauzah, boleh?”

          Ya Tuhan, aku harus jawab apa? Mengangguk mengiyakan? Itu sama saja dengan membuat iri Fauziah nantinya. Kebingungan menghadapi tingkah dua kurcaciku ini tak terhitung jumlahnya. Entah berapa kali. Tapi meski begitu, lewat Alisa dan Fauziah aku jadi banyak mendapatkan pelajaran. Terutama pelajaran tentang keikhlasan menerima.

          Alisa menyandarkan dirinya ke pelukanku. Anak ini memang suka dipeluk. Persis seperti ibunya, belum bisa tidur kecuali aku memeluk seraya mengelus-elus kepalanya. Pernikahanku dengan perempuan yang membuatku berdo’a lima belas tahun yang lalu membuahkan anak yang rewelnya minta ampun. Apalagi Fauziah yang seolah tak pernah bosan bertanya. Fauziah bertanya ada baiknya juga. Ia jadi lebih berpengetahuan dibanding kakaknya.

          Hampir pukul lima sore, aku menyuruh Alisa dan Fauziah bersiap-siap mengaji di surau. Aku harap Ustadz Umar memberi materi yang bisa membuatku tidak kepusingan menghadapi Alisa dan Fauziah. Biasanya masukan dari guru akan lebih dituruti ketimbang masukan dari ayah-ibu. Sebenarnya dari tadi Ashar aku menyuruh mereka mandi, tapi mereka tidak mau. Malah mengajakku menghabiskan waktu di teras. Tiga cangkir susu dan setoples biskuit menjadi pelengkap. Tapi tak lama Fauziah mengajak kakaknya main rumah-rumahan. Aku diabaikan begitu saja. Posisiku digantikan oleh boneka plastik. Hingga terjadilah perdebatan itu.     

          Alisa dan Fauziah sudah menenteng juz ‘amma-nya masing-masing. Setelah mencium pipi mereka, membetulkan jilbab yang tak beres, mereka langsung kabur. Aku dengar bisik-bisik Fauziah tadi yang menantang siapa yang bisa lebih cepat sampai di surau. Alisa menyetujui langsung lari sambil mengucapkan salam setelah aku menciumnya. Aku jadi sendiri di teras. Istriku sedang tidur.

          Pernikahan yang indah. Berusia sekitar tiga belas tahun. Di tahun ketiga, lahir seorang Alisa kecil nan menggemaskan. Dua tahun kemudian lahirlah Fauziah. Tak terasa, mereka sudah sebesar sekarang ini. Dulu aku tak menyangka perempuan yang membuatku berdo’a di lima belas tahun lalu akan menjadi istriku. Berselang kira-kira dua tahun setelah berdo’a, aku ditawari menikah dengannya. Ayahnya memang menjadikan aku sebagai supirnya. Sebulan setelah keluarga itu pindahan, aku ditawari jadi supir. Awalnya hanya bincang-bincang di sebuah warung kecil. Selama menjadi pekerja serabutan aku memang sering nongkrong di warung kecil. Kebiasaan para pemuda kampung memang begitu. Sambil ngopi.

           Awalnya tawaran bekerja menjadi supir itu dilontarkan padaku setelah tak sengaja lewat di depan rumahnya. Beliau bermasalah dengan mobilnya yang ngadat. Aku beranikan diri membantu. Berhasil. Mobilnya bisa dipakai lagi. Ya, mungkin karena kejadian itu beliau menawariku menjadi supir. Tahu mesin mobil pasti bisa memakai mobil, mungkin begitu pikirnya. Satu setengah tahun aku mengabdi jadi supir padanya. Setelah itu aku ditawari mengelola bengkel. Dari bengkel itulah aku merasa menjadi ‘orang’.

          Setengah tahun setelah mengurus bengkel, aku menikah. Oh, mungkinkah aku tidak akan sukses plus menikah jika tidak berdo’a di lima belas tahun yang lalu? Aku masih ingat saat bunga-bunga bermekaran bagai di musim semi. Saat mimpi-mimpi mulai kurajut berdua. Saat rencana-rencana ke depan membuat aku dan istriku semakin yakin. Aku dan istriku membuat janji setia. Cinta memang paling indah di awal, selanjutnya masih sama indah. Tapi keindahannya tak seindah di awal kurasa.

          Cinta kita tak akan hilang sebelum,
          Seekor unta bisa masuk ke dalam lubang jarum.
          Cinta kita tak akan hilang sebelum,
          Lautan kehilangan samudra biru.

          Puisi itu aku bisikkan saat bulan madu dulu. Ah, benar-benar cinta yang indah. Mungkin bagi segelintir orang puisi itu tergolong melankolis. Tapi cobalah berpikir adil, bersikap bijaksana. Kita sering mencap sepasang insan yang bermadu kasih itu berlebih-lebihan dalam menggombal. Sekarang kalau kita sendiri yang bermadu kasih, apa senang dicap berlebih-lebihan nan putis? Tentu tidak. Kita pasti malah mengira puisi yang kita ungkapkan benar-benar romantis—meski kata orang terdengar norak. Kita tetap percaya diri cinta kita adalah yang paling romantis sepanjang sejarah. Sepanjang sejarah? Oh, itu hiperbola sekali namanya.

          Mentari perlahan turun ke peraduannya. Sayang, aku tak melihatnya cukup jelas. Masih tertutup awan.
-o0o-
          Malam harinya, Fauziah rewel bertanya. Harapanku tadi sore tak terwujud. Ustadz Umar entah bercerita apa sehingga membuat bungsuku menjadi penanya bawel. Planet. Mars. Meteor. Bulan. Bintang. Ah, entahlah. Sepertinya Ustadz Umar berubah dari guru agama menjadi guru astronomi. Berbeda dengan Alisa, ia hanya diam. Malah aku lihat ia melamun.

          Saat mengecup kening Alisa di penghujung tidur, Alisa berkata lirih, “Ayah, Ibu sedang apa?” Oh jadi karena ini mungkin. Alisa banyak diam karena teringat bundanya.

          Pernikahan yang indah. Berusia sekitar tiga belas tahun. Di tahun ketiga, lahir seorang Alisa kecil nan menggemaskan. Dua tahun kemudian lahirlah Fauziah. Dan dua tahun kemudian aku disuruh oleh-Nya mengasuh seorang diri dua buah hati sekaligus. 

          “Alisa ingin bertemu Ibu...”

          Tuhan, entah sudah kesekian kalinya aku kewalahan menghadapi segala kalimat dari kurcaciku ini. Aku tersenyum dan berkata, “Ibumu sedang tidur.”

          Pernikahan yang indah. Berusia sekitar tiga belas tahun. Menghasilkan dua buah hati yang selalu membuatku belajar. Belajar menjadi ibu. Belajar tentang keikhlasan menerima. Berkat Alisa dan Fauziah, aku tidak bersedih. Hei, bagaimana bisa aku menenangkan rindu—seperti yang sedang dialami Alisa kini—sedangkan aku sendiri juga sama rindu? Sama merasa kehilangan? Sama merasa kesedihan? Namun berkat Alisa dan Fauziah, aku mengerti. Pernikahan akan selalu terasa sakinah, mawadah, warahmah ketika kita mampu ikhlas pada semua kehendak Tuhan.

          “Ayah, Alisa rindu Ibu. Ergh... Ah ya, Ayah, kenapa rindu seperti ini rasanya? Rasanya seperti ingin memeluk Ibu. Ayah, rindu itu apa sih?”

          Oh, adakah di antara kalian yang mampu menjawab pertanyaan sulungku ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar