Minggu, 21 Juni 2015

Cerpen: Biarkan Dia yang Memilih



          Aku dulu mengenalnya dalam organisasi mahasiswa. Ia anak baru, masih semester satu. Aku semester lima. Suatu hari pernah kuberanikan diri menyapanya. Saat itu aku menemuinya di perpustakaan daerah. Ah, sebenarnya hanya menyapa senyum, tak ada dialog.
          Di kampusku ada progam Unit Kegiatan Mahasiswa. Salah satu yang menarik perhatianku adalah tentang dakwah. LDK, Lembaga Dakwah Kampus. Dulu saat pertama masuk, aku langsung ikut menjadi anggota. Dan perempuan itu juga ikut menjadi anggota LDK. Sejak pertama aku melihatnya, selalu membuatku kagum. Bagaimana tidak, di tengah zaman serba maju ini, hampir setiap perempuan semakin memakai pakaian mini nan ketat. Bahkan aku ngeri jika melihat perempuan berjilbab namun berbaju ketat. Memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Tapi perempuan itu tidak. Malah mengenakan jilbab lebar dan baju longgar. Oh, aku kagum padanya.
          Namanya Hasma.
          Kejadian perkenalan itu sudah tertinggal jauh sekali. Empat tahun lalu aku baru saja lulus. Jadi sarjana Teknik Mesin. Alhamdulillah, saat aku lulus aku langsung mendapat pekerjaan di suatu perusahaan mobil. Hingga sekarang masih bekerja. Namun satu hal yang menjadi permasalahan adalah aku belum menikah.
          Hari ini pagi begitu riang menyapa. Tadi malam kupingku panas. Sempat berdebat dengan Ibu. Mungkin beliau sudah habis batas kekesalannya melihat anak bujangnya tidak kunjung menikah. Bapak tidak memaksa, mengerti bagaimana posisiku yang belum siap berumah tangga. Apalagi aku belum pernah merasakan dekat dengan perempuan. Oh, perempuan selalu membuatku panas dingin jika berhadapan. Bahkan berbicara pun takut. Entah kenapa.
          Namun tadi malam ada yang membuatku berpikir. Ya, ucapan Ibu menjadi perenungan malamku. “Cepatlah cari istri sana! Supaya kamu ada yang mengurus.”
          Simpel sekali kalimat Ibu itu. Tapi Kawan, bayangkan saja. Bagaimana tidak menjadi beban pikiran? Ibu selalu membahas masalah itu berulang-ulang. Kalimat tadi malam seolah membobol wadah penampung kalimat-kalimat Ibu, tak muat lagi kapasitasnya. Jebol. Membuatku berpikir. Ya, memang sudah seharusnya aku mencari pendamping hidup. Umurku baru 26, masih tergolong muda.
          Tadi malam juga sempat kubuka catatan perihal rencana hidupku yang aku tulis saat menjadi mahasiswa dulu. Kutuliskan semua rencana yang menjadi harapanku. Di sana juga kutuliskan target perempuan. Nama Hasma juga aku tuliskan, yang lain ada dua teman SMA, dan teman satu fakultas dulu. Di antara nama-nama itu yang paling membuatku tertarik adalah Hasma. Maka pagi ini rencananya aku ingin tahu kabar tentangnya. Kebetulan dalam organisasi LDK itu kami sudah saling mengenal. Jadi jika aku bertemu dengannya tak lain hanyalah berjumpa kawan lama.
          Terakhir kutemui ia di sebuah ruko. Mempunyai toko busana muslimah, terutama kerudung. Sekarang rencananya akan kutemui ia di kiosnya. Bersiasat membeli kerudung. Tidak mungkin aku berkata jujur bahwa datang ke sana hanya ingin bertegur sapa lantas ujung-ujungnya mengajukan lamaran. Apa yang akan ia bilang nanti kalau begitu? Aku tak mau salah ambil langkah. Mencari jodoh tentu perlu perencanaan yang sistematis.
          Sebenarya aku belum tahu bagaimana akhlaknya. Yang kebanyakan aku tahu hanya luarnya. Apalagi gayanya yang berjilbab dan berbaju muslimah. Sungguh mencerminkan perempuan Islam. Dalam hal ini tentunya harus ada pendekatan dulu. Bukan pacaran, melainkan ta’aruf. Ah, aku berani jamin perempuan bergaya Islami seperti Hasma adalah tipe yang anti pacaran. Kalau aku tahu ia punya pacar, tentu takkan mau aku dengannya. Masih banyak perempuan lain yang bisa menjaga hatinya.
          Pagi ini mentari mulai naik. Pukul sembilan. Suhu yang ideal. Antara panas dan dingin. Setelah berkendara dengan motorku, aku sampai. Oh, entah kenapa jantungku mendadak berdegup kencang. Grogi. Aku grogi. Baru saja aku berhenti di depan kiosnya—yang berukuran 6x8—ia tersenyum. Tengah menulis sesuatu. Etalase toko dijadikan meja tulisnya.
          Aku membalas senyum. Menghampiri. “Assalamu’alaikum.”
          “Wa’alaikum salam.” Jawabnya sambil menelungkupkan tangan, membalas ‘jabatan’ tanganku. “Aih, tumben ke sini. Ada yang bisa saya bantu, Kang?”
          Oh, satu-satunya perempuan yang memanggilku dengan kata ganti ‘Akang’ ini adalah Hasma. Biasanya yang di bawah umurku memanggil ‘Kakak’. Meski aku tidak suka dipanggil ‘Akang’, tapi kalau dia yang memanggil, maka tidak apa. Aku menjawab, “Ada kerudung?”
          “Tuh banyak. Tinggal pilih saja.” Hasma menunjuk pada koleksi kerudung-kerudungnya. Warna-warni. Ada yang bermotif, ada yang tidak. “Buat siapa, Kang? Calon istri, ya?” Senyum-senyum.
          “Eh, bukan. Ini buat Ibu.”
          “Oh.”
          “Bagusnya yang mana ya?”
          Hasma memilih-milih. Jari-jari lentiknya begitu indah menari, memilih-milih. Oh, ingin sekali aku menggenggamnya. Aku segera beristighfar. Kalau dilanjutkan lamunan ini akan semakin ‘ngeres’.
          “Yang ini bagaimana? Eh, Ibunya suka warna apa?” Hasma memilihkan yang berwarna cokelat.
          Aku diam. Entahlah Ibu suka warna apa. Tak terlalu memperhatikan. Terbesit rasa bersalah, padahal Ibu setiap hari aku temui. Kenapa sampai tidak tahu apa yang beliau senangi. Parahnya aku teringat saat masih SMA dulu. Ada perempuan yang aku sukai, mendadak aku menjadi mata-mata. Mencari apa yang dia sukai. Tapi ternyata ia punya pacar. Maka aku pun akhirnya sakit hati. Sia-sia upayaku itu dalam mencari apa yang ia sukai. Dan pada akhirnya aku merasa menjadi orang bodoh. Lha, sekarang dengan Hasma bertanya begitu, aku merasa berdosa pada Ibu!
          “Ergh... Hijau. Ya, hijau.” Aku menjawab asal. Hijau diambil dari cat rumah. Dulu Ibu sempat meminta Bapak memilih cat hijau ketika mau mengganti cat. Aku pula yang mengoleskan ke seluruh dinding, dibantu oleh Bapak.
          “Yang ini kayaknya cocok.” Hasma memberikan kerudung hijaunya.
          Ah, ia memang pandai memilihkan untuk calon mertua. Aku menyeringai dengan pikiranku barusan. Menjawab, “Ergh, beli dua saja, Has.”
-o0o-
          Membeli kerudung adalah hari pertama menuju tahap pencarian jodoh. Seminggu kemudian aku ke sana lagi, berniat membeli baju muslimah. Sengaja kuberi jarak satu minggu agar ia tidak curiga. Berbeda dengan seminggu lalu ia cuma sendiri, sekarang ia bersama seorang perempuan. Entah siapa. Mungkin teman atau saudaranya. Aku taksir umur mereka tidak beda jauh.
          “Ada baju yang bagus, nggak?” Tanyaku.
          Hasma malah menyeringai. “Akang! Kalau Akang tanya aku mana yang bagus, maka semuanya bagus.”
          Aku salah tingkah menghadapi senyumnya. Hanya bisa senyum-senyum.
          “Buat Ibunya lagi?” Tanyanya. Memberi isyarat pada rekannya untuk memperlihatkan beberapa desain baju.
          “Bukan.”
          “Calon istri?”
          “Bukan. Buat saudara.” Jawabku asal. Ya Allah, maafkanlah karena aku telah berbohong. Tapi aku janji akan memberikannya pada saudara sepupuku. Ah, kebetulan sekali di bulan ini ada yang ulang tahun. Maka sekarang aku tidak sedang berbohong. Itu fakta.
          Di minggu ketiga, aku membeli aksesoris seperti bros untuk dipasang di kerudung. Beralasan untuk anak-anak tetangga.
          Di minggu keempat, aku membeli kerudung, untuk teman yang ulang tahun.
          Di minggu kelima, aku membeli baju. Beralasan untuk nenek.
          Ah, dua bulan lamanya aku berkunjung setiap minggu. Misiku berhasil. Hasma mulai mengenaliku lebih, begitu pun sebaliknya. Bahkan kami kadang bercanda. Saling melempar guyonan. Aku lega bercampur grogi. Hanya tinggal selangkah lagi. Mengajukan lamaran, itu saja. Tentang selanjutnya bagaimana, biarkan Allah yang mengatur. Setidaknya aku sudah berusaha sejauh ini.
          Maka ketika ia suatu hari bertanya, “Buat siapa kali ini?”
          “Calon istriku.” Aku menyeringai.
          “Wah, jadi sekarang sudah ada? Siapa, Kang?”
          “Yang pasti perempuan. Masa cowok? Temanku dulu.”
          “Cie... Sahabat jadi cinta.” Sedikit tertawa.
          “Eh, kalau kamu kapan nikah?” Sungguh! Dari dulu aku ingin bertanya hal ini. Selanjutnya maka mudah bagiku. Tinggal kumpulkan keberanian dan ucapkan.
          “Ergh... Nggak tahu. Belum ada yang berani menyatakan cinta di depan Ayahku.” Menyeringai.
          Angin senja menelisik telingaku. Hiruk pikuk dunia ini entah kenapa jadi terasa sunyi nan sepi. Menahan napas. Ini saat yang tepat untuk bicara jujur. Tapi mulutku entah kenapa mengkhianati, malah tidak mau berkata. Jantungku berdetak kencang. Aku menelan ludah. Dengan bergetar aku berkata, “Hasma...”
          “Ya, Kang Ahmad? Ada apa lagi?” Hasma sibuk mengemas kerudung yang aku beli hari ini. Berbicara tanpa menoleh padaku.
          “Ergh...” Ya Allah! Kenapa susah?
          Hasma menoleh karena mendengar gerungan tak jelasku. Mengernyitkan dahi. Namun bibirnya terlukis senyum.
          “A... apa... bo... boleh aku ke rumahmu?”
          “Boleh. Ada apa memang? Tanya alamat buat ngasih undangan Akang nanti? Kasih ke sini saja.”
          Aku menahan napas. Sungguh, bagian ini tidak semudah yang aku kira. Aku mengumpulkan napas. Berkata, “Aku ingin berbicara dengan ayahmu. Aku ingin melamarmu. Bolehkah? Yang barusan hanya bercanda. Aku belum punya calon. Lagi mencari. Ergh, sekali lagi bolehkah aku ke rumahmu?” Aku memperlihatkan senyum terbaikku.
          Kali ini Hasma yang terdiam. Bengong. Sebelum ia menjawab, aku segera meraih bingkisan belanjaanku. Dan segera pamit dengan senyum, mengangguk pelan. Lantas buru-buru ke motorku yang tengah parkir. Tak penting aku mendengar jawaban darinya. Setidaknya maksudku bertanya itu hanya untuk membuatnya tidak terlalu terkejut andaikan aku datang ke rumahnya nanti. Dan aku akan melakukannya malam ini juga. Jauh-jauh hari aku sudah tahu di mana rumahnya. Dulu pernah aku buntuti.
          Sebelum benar-benar menggas motor, aku menoleh lagi padanya. Ia masih terdiam, menatapku bengong. Kali ini ia sendiri di tokonya. Tidak mungkin aku berani mengatakan seperti barusan jika ada rekannya.
          Ia pun tersenyum. Manis sekali. Entah apa yang ada di pikirannya. Ah, misiku sukses besar. Untuk menghadapi ayahnya, sudah kusiapkan berjuta kata-kata penuh kewibawaan. Itu masalah kecil. Rumusnya sederhana: perlihatkan diri sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab dan berani memimpin, maka calon mertua pasti akan berkata setuju. Aku tak boleh kelihatan grogi. Harus berani.
-o0o-
          “Sudah bekerja?” Umur ayah Hasma aku taksir hampir 50 tahun. Sebagian rambutnya telah berganti warna menjadi keperakan. Di lihat dari raut mukanya, beliau ramah. Benar dugaanku sebelumnya. Anaknya bergaya ustadzah, pastilah ada dalang di balik semua itu. Sebenarnya penampilan ayahnya tidak seperti ustadz yang ke mana-mana selalu pakai baju koko dan peci. Ayah Hasma tidak begitu. Hanya memelihara janggut tipis. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
          “Alhamdulillah sudah. Di sebuah perusahaan mobil.” Jawabku tenang. Sudah kubilang ini mudah kan? Lihatlah aku yang kini tengah bersikap biasa saja. Dari tadi aku mencoba mengikuti alur pembicaraan yang beliau tanyakan. Pertama pastilah asal dari mana. Aku menjawab semuanya dengan tenang. Pengalamanku menghadapi atasan kerja yang “super killer”, membuatku bisa lebih tenang menghadapi lawan bicara. Yang super killer aku sudah bisa mengontrol diri, mengapa yang baik—seperti ayah Hasma—tidak?
          “Saya kagum kamu bangga dengan pekerjaanmu sendiri. Dan saya yakin kamu akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Tapi masalahnya terserah Hasma mau atau tidak.” Oh beliau setuju. Aku mengucapkan hamdalah berulang kali dalam hati. Dinginnya malam menjadi terasa hangat. Seperti mentari di musim semi yang penuh bunga.
          Sebulan kami ta’aruf.
          Sebulan lagi kami merencanakan pernikahan.
          Kulihat perempuan itu merindu lelap. Saat malam pertama ini aku berbisik padanya, “Dulu aku pernah menuliskan namamu dalam peta rancangan hidupku. Oh, mungkinkah jika aku tidak menuliskan namamu sekarang kita tidak akan bersama?”
          Perempuan berjilbab lebar itu hanya tersenyum.
          Aku mencium keningnya setelah berdo’a seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Hari ini aku tahu bahwa jodoh itu ada di tangan Allah, Sang Pemilik Jodoh. Meski begitu, kita masih bisa memilih siapa yang jadi jodoh kita. Dengan menuliskannya. Bawa nama-nama target pada-Nya. Biarkan Dia memilihkan siapa yang pantas. Perhatikan aku, baru dinomor pertama sudah dapat. Padahal ada empat perempuan yang jadi target. Eits tunggu, tunggu. Bisakah aku mencoba yang nomor dua? Tiga? Dan empat? Ah, aku jadi teringat pernah membaca tulisan di sebuah buku motivasi. Di sana ada gurauan. Hmm, tentunya Kawan hafal lagu “Jagalah Hati”? Nah, di buku itu liriknya diganti menjadi. “Jagalah istri, jangan kau poligami. Jagalah istri, jangan kau kawin lagi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar